Thursday, March 15, 2007

Peringatan untuk obat-obatan bebas!

Hidup sehat
3/2/2007

polifarmasi3.jpg

Berdasarkan penelitian yang dirilis di Journal of the American Medical Association, lebih dari 70% orang dewasa dan sekitar 50% anak-anak mengkonsumsi obat-obatan yang dijual bebas.

Hasil penelitian mengindikasikan bahwa banyak konsumen yang mengkonsumsi obat bebas tanpa membaca label atau peringatan mengenai kemungkinan obat tersebut untuk berinteraksi atau ada efek samping lainnya. Dan juga karena persepsi umum yang menganggap bahwa obat-obatan tersebut pasti aman sehingga konsumen tidak mencari informasi lebih dalam sebelum mengkonsumsi.

Menurut data terkini dari JAMA, lebih dari 100.000 obat-obatan bebas yang tersedia dan dapat dibeli tanpa resep dokter. Bagi konsumen tentunya tidak mungkin memahami lebih dari 100.000 obat-obatan tersebut, sehingga peran dokter atau tenaga kesehatan sangat diperlukan untuk mengedukasi konsumen.

Sebaiknya konsumen mempelajari pilihan yang tersedia untuk obat-obatan yang dijual bebas sehingga dapat menggunakannya untuk kondisi minor yang dapat diperlakukan tanpa harus ke dokter. Sehingga obat-obatan tersebut dapat bermanfaat bukan sebaliknya.

Namun tetap saja dokter harus mengingatkan konsumen kesehatan untuk membaca label obat dengan hati-hati terutama yang dicetak dengan ukuran huruf/angka kecil-kecil dan bantu konsumen jika mereka merasa tidak yakin akan pilihannya. Dokter harus berasumsi semua obat-obatan bebas dapat berbahaya terutama jika konsumen kesehatan telah mengkonsumsi obat-obatan lainnya.

Sangat mudah untuk overdosis

Catherine Little, usia 67 penduduk Cincinnati bercerita bahwa dia telah mengkonsumsi obat untuk tekanan darah dan obat nonsteroidal anti-inflammantory ketika dia mengeluhkan demam dan kemudian memutuskan untuk meminum obat-obatan yang dijual bebas tanpa resep dokter. Namun karena batuknya juga tidak kunjung reda, maka dia juga mengkonsumsi obat batuk. Saat ingin mengkonsumsi kebetulan dia tidak memiliki sendok untuk mengukur dosis yang tepat, sehingga hanya memperkirakan dosisnya saja. Dan itulah ingatan terakhirnya setelah itu dia terbangun dirumah sakit.

Awalnya dokter bagian gawat darurat tidak yakin apa yang menyebabkan Catherine mengalami dementia. Tes yang dilakukan untuk mengetes stroke, massa dan metabolic hasilnya negative. Hanya setelah Catherine dapat berpikir dengan jernih maka dapat mengatakan kepada dokter apa yang telah dia konsumsi sehingga dokter mengambil kesimpulan Catherine mengalami overdosis obat-obatan yang dijual bebas.

Obat-obatan memang memiliki efek yang berbeda untuk orang yang telah berusia lebih dari 65 tahun. Kesalahan umum lainnya adalah seringkali mengkonsumsi obat-obatan yang dijual bebas lebih lama dari yang direkomendasikan tentunya informasi ini ada di label namun dengan cetakan huruf yang sangat kecil.

Polifarmasi menimbulkan banyak bahaya. Contohnya, naproxen dan ibuprofen aman dan efektif tapi banyak konsumen kesehatan yang mengalami masalah jika dikonsumsi secara bersamaan. Sekarang banyak orang yang mengkonsumsi aspirin sehari sekali untuk kesehatan jantung. Tapi, aspirin yang dikonsumsi bersamaan dengan nonsteroidal anti inflammatory dapat meningkatkan resiko terkena masalah dengan gastrointestinal. Menyampurkan kafein atau tembakau dapat meningkatkan tekanan darah terutama dikonsumsi lagi dengan obat apapun dapat juga menimbulkan masalah lebih parah lagi.

Sangat penting bagi tenaga kesehatan untuk bertanya lebih detil terhadap apa yang dikonsumsi oleh konsumen. Karena biasanya mereka lebih sering mengatakan menkonsumsi vitamin padahal bisa saja vitamin tersebut sesungguhnya adalah obat diet yang mengandung ephedra atau menyebutkan Sudafed dibanding mengatakan mengkonsumsi antihistamine.

No comments: