Friday, May 25, 2007

Tips memilih susu UHT

Setelah tahu cara membedakan susu pasteurisasi dari susu UHT,
pertanyaan selanjutnya adalah: pilih yang mana? Atau sebagian orang
bertanya langsung: apa ya merek yang bagus?

Pertanyaan untuk menjawab pertanyaan di atas (nah, lho!) adalah: butuh
yang bagaimana?

Cermati label!

1. Informasi gizi (nutrition facts), contoh gambar bisa dilihat di
sini (http://www.usda.gov/news/pubs/fbook98/facts.gif)

Di sini ada keterangan tentang takaran saji (satu kemasan cukup untuk
berapa sajian), senyawa/unsur penting apa yang terkandung (vitamin,
mineral, lemak, air, dll), persen kecukupan gizi senyawa/unsur (persen
nutrisi yang terkandung, relatif terhadap kebutuhan gizi rata-rata
orang Indonesia), kalori yang diberi masing-masing zat, total kalori
(keseluruhan dari gula, lemak, dan protein).
Tidak selalu sama antar produk, yang penting untuk dicermati ya yang
menjadi alasan kita memilih susu. Misalnya kalsium, lemak, dan
beberapa vitamin.

2. Komposisi (ingredients).
Hanya susu segar, atau ada lainnya?
Jika beberapa vitamin disebutkan di bagian komposisi, berarti vitamin
ini ditambahkan (selain yang sudah ada secara alami dalam susu).
Jika ada gula, berarti susu ditambahi gula. Penting diingat,
penambahan gula harus dilihat dari 'komposisi', bukan dari 'informasi
gizi'.

Jika terkandung susu skim, air, gula, pencita rasa, penstabil,
emulsifier, dll berarti susu telah mengalami proses LEBIH dari sekadar
pemanasan/sterilisasi.
Tentunya susu sudah tidak murni lagi dan tahapan prosesnya lebih
banyak, yang memungkinkan nutrisi lebih banyak yang rusak sehingga
harus ditambahkan (ya vitamin, mineral, dll yang disebutkan di komposisi).

Singkatnya, susu diproses lebih lama, nutrisi rusak lebih banyak, susu
ditambahi berbagai bahan. Seperti 'menambal' saja. Memang bisa saja
tambalannya lebih banyak daripada yang hilang.
Harganya bisa lebih murah atau lebih mahal daripada susu murni.
Tergantung produsennya.
Susu formula -in my humble opinion- termasuk 'jenis' tambal-sulam ini.

---
Intermezzo, homogenisasi hanya suatu usaha untuk memperlambat
terpisahnya lemak dari cairan selebihnya.
Homogenisasi dilakukan secara fisika, dengan memecah molekul lemak
menjadi lebih sederhana (sesederhana yang diperlukan, cukup untuk
tidak memisah dari cairan susu), dengan cara memberikan tekanan tinggi
pada susu saat melalui saluran sempit (orifice).

Susu yang melalui homogenisasi tidak harus 'diwaspadai karena telah
ditambahi bahan kimia tertentu sehingga dapat merusak gizi'. Beberapa
gelintir orang sangat khawatir pada susu yang diolah besar-besaran di
pabrik, dengan proses homogenisasi ini sebagai alasan.
It's physical process, not chemical.

Homogenisasi ini untuk kepentingan praktis.
Supaya anda tidak 'rugi' karena kehilangan lemak (yang telah dibeli)
yang menempel di dinding kemasan dan tidak perlu mengocok susu sebelum
dikonsumsi.
Dihomogenisasi atau tidak, tidak memberi dampak penting pada nutrisi.
Anda boleh 'peduli' atau tidak untuk mempertimbangkan perlakuan
homogenisasi pada susu.
---

3. Aturan pakai.
Kata siapa deterjen saja yang punya aturan pakai? :)
Yang pasti ada di kemasan susu cair: simpan di temperatur 'sekian'
(atau di kulkas) jika kemasan telah dibuka (ya kira-kira seperti
itulah kalimatnya).

Untuk 'kasus' susu formula versi UHT (Nutrilon, misalnya. Maaf bukan
sentimen, hanya baru tahu merek ini saja yang sedia kemasan kecil
versi UHT), ada keterangan tambahan: harus habis dalam waktu 'sekian'.
Tolong betulkan jika saya salah.

Harus diingat, UHT hanya metode proses, bukan 'genre' tersendiri dari
susu. Susu UHT tidak membuatnya serta merta 'bukan susu formula',
'susu paling baik', atau 'susu murni'. Bukan.

Lebih tepatnya adalah: Susu UHT/pasteurisasi adalah susu sapi yang
mengalami proses pemanasan dengan metode UHT atau pasteurisasi.
Tidak menentukan isi, dan bukan jaminan kualitas.
Walaupun untuk 'kasus' di negara Indonesia ini, susu UHT/pasteurisasi
seolah menjadi 'pahlawan' perjuangan melawan cengkeraman promosi susu
formula.

Ini sekaligus jadi penyempurnaan dari sedikit yang mengganjal ketika
saya melihat alur diskusi tentang susu UHT.
Seolah semudah 'susu formula versus susu UHT'.
Generalisasi ini termasuk kasar, dan bisa berlaku.
Namun tidak sepenuhnya tepat.
Ini 'terbukti' ketika ada yang menanyakan tentang 'susu UHT yang mudah
rusak', yang ternyata adalah versi UHT dari susu formula tertentu.

Cermati dulu labelnya, baru kita tahu isi susunya, apakah itu 'susu
formula yang dicairkan' (pinjam istilah mbak Listi), susu murni yang
disterilkan, atau susu sapi yang diberi suplementasi (AA, DHA,
immunoglobulin, kolin, dll).

4. Merek sih apa saja asal cocok (anak suka, misalnya), harga tidak
mencolok, dan gampang stok-nya (mudah dicari, tidak langka atau hanya
bisa diperoleh di supermarket tertentu).
Permudah saja, jangan dipersulit dengan memaksakan ikut 'jalur
mayoritas' (tenang, beda selera merek gak papa kok mbak, mas, bu, pak).
Yang cocok untuk keluarga lain toh belum tentu cocok dengan selera
keluarga kita

No comments: